Kosku
Surgaku
Ketika
aku pertama kali memasuki kosku, betapa kagumnya aku melihat rumah ini. Betapa
mewahnya rumah yang dijadikan kos ini dengan bayaran perbulan yang cukup murah
dibandingkan dengan teman-temanku yang ngekos di tempat lain. Karena kos ini
adalah rumah yang pemilik rumahnya tugas di luar kota. Rumah ini selain untuk
tempat kami berlindung ketika tidak kuliah juga kami ditugaskan untuk
membersihkan rumah ini dengan jadwal piket yang telah kami atur sebelumnya.
Rasa senang dalam hati,dan ingin kukatakan pada semua orang aku adalah orang
yang beruntung dapat tinggal di rumah ini selama kuliah dan jujur rumahku
dikampung sangat berbeda jauh dengan rumah yang ku tinggali sekarang.
Rumah
ini bisa dimasuki melalui dua pintu, yaitu melalui pintu depan yang langsung
berpapasan dengan ruang tamu dan juga melalui pintu garasi yang ketika dibuka
akan terlihat beberapa motor milik teman-teman kosku, tetapi jika melalui pintu
garasi pasti akan bertemu dengan ruang tamu juga. Di ruang tamu tersebut
terlihat kursi tamu dari kayu dan busa yang terlihat mewah. Pada malam hari
ruangan itu diterangi oleh lampu hias berwarna putih dan dilanjutkan dengan lampu kecil berwarna kuning yang diletekkan di
sudut-sudut ruangan yang hanya dihidupkan ketika kami semua terlelap, yang
menghidupkannya adalah orang yang terakhir memasuki rumah ketika malam hari.
Dengan keramik berwarna putih membuat ruangan tersebut terlihat bersih. Pada
kaca-kaca jendela dilindungi oleh gorden berwarna kuning keemasan dengan
renda-renda yang membuat ruangan itu tampak indah. Sungguh ruang tamu itu
sangat bagus yang membuatku selalu merasa nyaman.
Beberapa
langkah dari ruang tamu akan bertemu dengan ruang Tv yang menjadi tempat anak
kos berkumpul. Ruangan tersebut yang
kira-kira panjangnya 3 meter dan lebarnya 4 meter. Membuat aku dan teman-teman
betah duduk di situ sambil menonton Tv dan melepaskan canda tawa kami. Tv 21
inch yang ditinggalkan sang pemilik rumah diletakkan di atas lemari hias yang
tidak terlalu tinggi. Di samping lemari
tempat meletekkan Tv itu ada meja yang digunakan untuk meletakkan setrika umum
untuk kami. Satu langkah dari meja itu, ada kipas angin yang seharusnya di
lekatkan pada dinding. Tetapi kipas itu
tidak dilekatkan pada dinding, aku pun tidak tau penyebabnya, jadi hanya
diletakkan diatas kursi plastik berwarna hijau muda. Pada dinding ruangan
tersebut terlihat dua bantal yang sengaja kami letakkan untuk kami bersandar
maupun berbaring di depan Tv
Disebelah
kiri ruang Tv terlihat 22 anak tangga yang setiap waktu aku langkahi menuju
kamarku. Tangga yang warna keramiknya oren dan dengan besi pegangan yang
menancap di samping tangga mengantarkan aku dan teman-teman menuju kamar.
Tangga itu sangat mewah karena tangganya berputar kearah kanan. Diantara
besi-besi pegangan dipisahkan dengan ukiran bunga yang indah. Ketika ku melangkahi tangga itu menuju ke
kamar terkadang terlintas dipikiranku beginilah aku mengejar cita-citaku yang
harus ku raih dengan penuh semangat agar sampai ketujuan akhir seperti aku
menaiki tangga ini.
Rumah
yang kami tinggali ini juga dilengkapi dengan dapur seperti rumah-rumah pada
umumnya. Dapur yang luas membuat kami menjadi sedikit menjadi rajin dalam hal
memasak, sehingga jarang diantara kami yang membeli lauk masak. Dapur yang
dilengkapi dengan kompor gas itu di pakai oleh kami secara bergantian. Pada
dapur itu cukup lengkap peralatan masak yang ditinggalkan oleh sang pemilik
rumah sehingga aku dan teman-teman tidak perlu membawa peralatan masak dari
kampung. Di dapur terlihat enam kursi yang tersusun rapi mengelilingi meja
makan yang diatasnya ada tudung saji untuk menutupi makanan kami.
Yang
namanya kos-kosan pasti ada kamar dan perlengkapan lainnya. Rumah ini memiliki
enam kamar. Tiga kamar di lantai bawah dan tiga kamar lagi di lantai atas.
Kamar dibawah hanya satu yang dikoskan karena duanya lagi untuk pemilik rumah
apabila mereka datang ke Pekanbaru. Dan tiga kamar yang diatas semuanya
dikoskan, yang satu kamarnya untuk dua orang. Untuk kamar yang dikoskan tidak
ada toiletnya di kamar. Tetapi untuk dua kamar disediakan satu kamar mandi. Berbeda
dengan kamar pemilik rumah yang langsung ada toiletnya di kamar mereka. Tidak
hanya itu, di pekarangan belakang rumah, ada dua pohon mangga yang berdiri
kokoh yang sedang berbuah, dan kami bebas mengambil buah mangga itu. Dan
saatnya aku mengatakan kosku surgaku.