Rabu, 15 April 2015

Kosku Surgaku

Ketika aku pertama kali memasuki kosku, betapa kagumnya aku melihat rumah ini. Betapa mewahnya rumah yang dijadikan kos ini dengan bayaran perbulan yang cukup murah dibandingkan dengan teman-temanku yang ngekos di tempat lain. Karena kos ini adalah rumah yang pemilik rumahnya tugas di luar kota. Rumah ini selain untuk tempat kami berlindung ketika tidak kuliah juga kami ditugaskan untuk membersihkan rumah ini dengan jadwal piket yang telah kami atur sebelumnya. Rasa senang dalam hati,dan ingin kukatakan pada semua orang aku adalah orang yang beruntung dapat tinggal di rumah ini selama kuliah dan jujur rumahku dikampung sangat berbeda jauh dengan rumah yang ku tinggali sekarang.
Rumah ini bisa dimasuki melalui dua pintu, yaitu melalui pintu depan yang langsung berpapasan dengan ruang tamu dan juga melalui pintu garasi yang ketika dibuka akan terlihat beberapa motor milik teman-teman kosku, tetapi jika melalui pintu garasi pasti akan bertemu dengan ruang tamu juga. Di ruang tamu tersebut terlihat kursi tamu dari kayu dan busa yang terlihat mewah. Pada malam hari ruangan itu diterangi oleh lampu hias berwarna putih dan dilanjutkan dengan  lampu kecil berwarna kuning yang diletekkan di sudut-sudut ruangan yang hanya dihidupkan ketika kami semua terlelap, yang menghidupkannya adalah orang yang terakhir memasuki rumah ketika malam hari. Dengan keramik berwarna putih membuat ruangan tersebut terlihat bersih. Pada kaca-kaca jendela dilindungi oleh gorden berwarna kuning keemasan dengan renda-renda yang membuat ruangan itu tampak indah. Sungguh ruang tamu itu sangat bagus yang membuatku selalu merasa nyaman.
Beberapa langkah dari ruang tamu akan bertemu dengan ruang Tv yang menjadi tempat anak kos  berkumpul. Ruangan tersebut yang kira-kira panjangnya 3 meter dan lebarnya 4 meter. Membuat aku dan teman-teman betah duduk di situ sambil menonton Tv dan melepaskan canda tawa kami. Tv 21 inch yang ditinggalkan sang pemilik rumah diletakkan di atas lemari hias yang tidak  terlalu tinggi. Di samping lemari tempat meletekkan Tv itu ada meja yang digunakan untuk meletakkan setrika umum untuk kami. Satu langkah dari meja itu, ada kipas angin yang seharusnya di lekatkan pada dinding.  Tetapi kipas itu tidak dilekatkan pada dinding, aku pun tidak tau penyebabnya, jadi hanya diletakkan diatas kursi plastik berwarna hijau muda. Pada dinding ruangan tersebut terlihat dua bantal yang sengaja kami letakkan untuk kami bersandar maupun berbaring di depan Tv
Disebelah kiri ruang Tv terlihat 22 anak tangga yang setiap waktu aku langkahi menuju kamarku. Tangga yang warna keramiknya oren dan dengan besi pegangan yang menancap di samping tangga mengantarkan aku dan teman-teman menuju kamar. Tangga itu sangat mewah karena tangganya berputar kearah kanan. Diantara besi-besi pegangan dipisahkan dengan ukiran bunga yang indah.  Ketika ku melangkahi tangga itu menuju ke kamar terkadang terlintas dipikiranku beginilah aku mengejar cita-citaku yang harus ku raih dengan penuh semangat agar sampai ketujuan akhir seperti aku menaiki tangga ini.
Rumah yang kami tinggali ini juga dilengkapi dengan dapur seperti rumah-rumah pada umumnya. Dapur yang luas membuat kami menjadi sedikit menjadi rajin dalam hal memasak, sehingga jarang diantara kami yang membeli lauk masak. Dapur yang dilengkapi dengan kompor gas itu di pakai oleh kami secara bergantian. Pada dapur itu cukup lengkap peralatan masak yang ditinggalkan oleh sang pemilik rumah sehingga aku dan teman-teman tidak perlu membawa peralatan masak dari kampung. Di dapur terlihat enam kursi yang tersusun rapi mengelilingi meja makan yang diatasnya ada tudung saji untuk menutupi makanan kami.

Yang namanya kos-kosan pasti ada kamar dan perlengkapan lainnya. Rumah ini memiliki enam kamar. Tiga kamar di lantai bawah dan tiga kamar lagi di lantai atas. Kamar dibawah hanya satu yang dikoskan karena duanya lagi untuk pemilik rumah apabila mereka datang ke Pekanbaru. Dan tiga kamar yang diatas semuanya dikoskan, yang satu kamarnya untuk dua orang. Untuk kamar yang dikoskan tidak ada toiletnya di kamar. Tetapi untuk dua kamar disediakan satu kamar mandi. Berbeda dengan kamar pemilik rumah yang langsung ada toiletnya di kamar mereka. Tidak hanya itu, di pekarangan belakang rumah, ada dua pohon mangga yang berdiri kokoh yang sedang berbuah, dan kami bebas mengambil buah mangga itu. Dan saatnya aku mengatakan kosku surgaku.

1 komentar:

  1. Ini hanyalah tugasku semester 1. Dasar-dasr menulis dengan materi teks deskripsi..

    BalasHapus